udagedemasinete
>> jurnal dua pria korban kekejaman ibukota

Hikayat Hidup Seorang Jonih (cont’d)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan Jonih sebelumnya: Hikayat Hidup Seorang Jonih

Lulus dari SLTP, Jonih mendaftarkan diri ke SMU Insan Cendekia, Serpong. Salah satu materi ujian masuk kala itu adalah bahasa Arab. Berpuluh-puluh pertanyaan ditulis dalam Arab gundul, dan bagian ini adalah yang paling cepat diselesaikannya karena walaupun pertanyaan-pertanyaan itu ditulis dalam Arab gondrong sekalipun, niscaya Jonih tidak akan mampu menyelesaikannya jika proses menjawab didahului oleh proses berpikir, sehingga … (silakan renungkan sendiri) Di ruang ujian itulah ia mulai memahami arti tawakkal yang hakiki. Sungguh sekolah ini sangat kental atmosfer religinya, yang bahkan pada proses seleksi penerimaan muridnya pun sudah sungguh terasa. Jonih semakin mantap (baca: merenungi nasib sambil meratap) untuk masuk ke situ! Mungkin memang sudah qada dan qadar-Nya, Jonih remaja pun akhirnya melanjutkan jihadnya menuntut ilmu di sekolah berasrama ini.

Di sini pula lah Jonih mengenal saudara-saudaranya yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia bagian barat (saudara-saudara kami dari Indonesia timur berkumpul di Insan Cendekia Gorontalo). Mayoritas mereka ini adalah alumni dari berbagai pondokan (pesantren) atau madrasah tsanawiyah. Dari mereka jualah Jonih berkenalan dengan musik mulai dari yang mengajarkan kita untuk senantiasa mengingat kematian,

sampai musik yang mengingatkan kita akan bahaya menyekutukan Allah dengan mengimani kekuatan materiil duniawi seperti kemenyan misalnya. (Peringatan: Mohon maaf Jonih tidak berhasil menemukan video klip yang lebih pantas.)

Seiring dengan berjalannya waktu, sekolah Jonih ini pun berevolusi dari yang awalnya berstatus sebagai SMU swasta sampai akhirnya menjadi Madrasah Aliyah Negeri: MAN Insan Cendekia. Jonih sempat bingung, karena sepengetahuannya, sekolah negeri biasanya tidak memiliki nama melainkan ditandai dengan nomor. Namun, setelah kontemplasi yang mendalam, mengingat bahwa MAN ini adalah MAN pertama di Serpong, rasa-rasanya kurang enak kalau dinamai “MAN 1”. Mungkin takut orang salah baca atau bagaimana.. Ya sudah lah, tak perlu disesali, jangan dimasukin hati. Dalam waktu yang relatif singkat untuk remaja seumurnya (hanya 3 tahun saja) Jonih pun berhasil menyelesaikan studinya di sana.

Selepas itu Jonih mencoba peruntungan nasibnya: ikut SPMB dengan Teknik Elektro ITB sebagai pilihan pertamanya. Wali kelas Jonih pun dengan bijaknya berkata kepada ibunda Jonih, “Berani juga dia ya, Bu…” *kurang asem.. Maksudnya apa ya itu? Karena jangan salah sangka, Jonih adalah salah satu di antara teman-teman seangkatannya yang lolos pada try out SPMB pertama! Kebetulan waktu itu jurusan yang dipilihnya adalah Ilmu Keolahragaan di IKIP Manado, sementara kawan-kawannya memilih Kedokteran UI, Teknik Informatika ITB, dlsb.

Seperti kata pepatah “Dua istri cukup, gadis janda sama saja,” Jonih pun diterima di institut tersebut, dan di sinilah Jonih dipertemukan oleh nasib buruk dengan Malih. Mengikuti jejak sang ayah, Jonih memilih sub-jurusan Teknik Telekomunikasi, dan setelah melalui jalur yang “mendaki lagi sukar” lulus pada tahun 2007 yang telah lalu. Ia kemudian bekerja di perusahaan yang sama dengan Malih, di mana petualangan selanjutnya menanti. Setahun kemudian, Jonih menikah dengan kekasih pujaan hatinya dan kini telah dikaruniai seorang putra buah cinta mereka berdua.

Kembali ke musik, kini Jonih lebih tertarik pada musik-musik yang “sederhana lagi unik”, di mana feel lebih penting dibanding skill.

Demikianlah riwayat singkat dari hidup seorang Jonih. Semoga dapat membawa manfaat walau hanya sebesar biji nawi sawi bagi yang mengkajinya. Bon apetite!

-Jonih-

No Responses to “Hikayat Hidup Seorang Jonih (cont’d)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.