udagedemasinete
>> jurnal dua pria korban kekejaman ibukota

No Guts No Glory Part II

Fyuh, kampret nih emang baru bisa nulis lagi, eniway busway, kita lanjut lagi dengan pengalaman hidup dari si manusia lumba2 nung … (baca post sebelumnya –> ****).

hari pertama nung di rumah bimo semuanya lancar sepertinya, berangkat dan pulang bang nung si manusia lumba2 ini nebeng bokapnya bimo, gak ada kejadian yang menarik jadi gak perlu diceritain, hari kedua si manusia lumba2 ini kesiangan, jadilah dia ditinggal ama bokapnya si bimo heheheheh, dengan modal memori yang gak nyampe 128Mb si manusia lumba2 nung tadi berhasil mengendus jalan berangkat ke tempat kerjanya di astra (kalo gak salah yak, kuburan soalnya lupa2 inget) heheheh, setelah hari ketiga, karena gak enak mungkin ngrepotin orang tuanya bimo mulu yang musti ngasih makan, mandiin, nyebokin dan lain sebagainya si nung tadi memutuskan untuk hengkang dari dunia persilatan rawa badak a.k.a rumah bimo.

Nasib atau processor otak yang sedikit rusak kala itu mempertemukan dia dengan kawannya yang bernama widi yang merupakan ceesan dia waktu smp. Si widi ini bekerja sebagai office boy di sebuah LSM yang bergerak/peduli terhadap penyebaran HIV/AIDS yang terletak di belakang tempat prostitusi yang sori banget gw lupa dimana heheheheheh, bang nung bilang kalau waktu dia tinggal 2 minggu di tempat widi itu nyang paling sengsara, jadi si widi ini tidur di kantornya di belakang tempat ngehek tadi tidur hanya beralaskan tikar dan pakaian seadanya, tiap hari harus berangkat pagi2 buta karena ndak enak sama si widi kalau ketahuan dia nginepin temen di kantor, takutnya si widi di apa2in sama LSM nya kali yak, jadi bang nung yang baik hati tampon (hurup “o” disini bukan salah ketik kok, sengaja :P ) dan meningkatkan birahi sapi manapun yang memandang tadi rela berangkat pagi2 buta demi melindungi sang kawan. Tapi penderitaan tidak sampai disini saja, pas pulangnya kadang2 dia harus menunggu orang2 kantor LSM tadi pulang semua supaya ndak ketahuan kalau dia nginep di situ, walaupun badan sudah payah dan lelah gempita setelah bekerja seharian tapi dia tetap berusaha melindungi kawannya tadi sepertinya.

Peluh menetes, raga melunglai, jiwa menatap kosong di cakrawala kehidupan si bang nung tadi selama dua minggu di tempat widi, setiap hari disuguhkan dengan pemandangan kupu2 malam yang menjajakan “susu” dan “kue lapis”, mereka serasa tak dipedulikan oleh bang nung, dia hanya ingin bertahan hidup…

setelah dua minggu bersama widi dan tikar ajaibnya yang digelar di depan pintu kamar mandi kali ini keberuntungan bang nung mulai tampak, walaupun bukan dalam bentuk kemenangannya di bidang judi togel atau menikahi janda kaya, bang nung tadi bertemu dengan kawannya dicky dan bang nung si siluman lumba2 tadi pindah tinggal bersama dicky sampai kemudian dia in the kost di daerah karet dan pindah ke jatis kemudian ke kompeni yang sekarang, kompeni yang kebanyakan orang mengira kompeni ini bergerak di bidang hamburger wekekekekekeke.

Gw cuman share pengalaman hidup si abang ini buat diri gw pribadi untuk memacu bahwa dibalik kesusahan itu ada kemudahan dan jangan berputus asa, si bang nung ini sekarang merupakan outstanding performer yang di miliki perusahaan dimana gw bekerja sementara ini yang merupakan perusahaan no.1 di bidangnya di dunia ceunah katanya (kek gw peduli aja no. berapa, yang penting duit duit duit, gaji buat modal niy dah capek gw kerja … heheheheh)

yippie kai ye, dah dulu ah, see ya

No Responses to “No Guts No Glory Part II”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.