udagedemasinete
>> jurnal dua pria korban kekejaman ibukota

Hikayat Hidup Seorang Jonih

Ternyata, Jonih dilahirkan di Jakarta, 3 April 1984 yang telah lampau.

Masa kecilnya disia-siakan di rumah kontrakan di daerah Tebet, Jakarta Selatan sebelum akhirnya keluarga Jonih kecil pindah ke rumah kreditan di bilangan Serpong, Tangerang dengan hamparan hutan karet yang katanya merupakan tempat jin buang anak. Alhamdulillah, orang bilang sekarang sih Serpong udah berubah jadi tempat jin buang duit.

Daripada terlalu banyak menghabiskan waktu di hutan karet ini, akhirnya Jonih masuk ke Kelompok Bermain Mutiara Indonesia asuhan Kak Seto (waktu itu Si Komo blm ada) sembari mengisi waktu luang yang dimilikinya. Walaupun masih di seputaran Tangerang juga, tapi sepertinya tempat ini tidak terlalu banyak jinnya. Namun ternyata Jonih tidak menyukai permainan anak-anak yang diajarkan di situ. Ia juga kurang bisa menikmati jajanan permennya yang rasanya mirip sirup penurun panas merek Calapol. Singkat kata singkat cerita.. ia memilih untuk hengkang, drop out dari taman bermain tersebut, dan kembali ke hutan habitat asalnya.

Sampai tiba masanya untuk masuk ke taman kanak-kanak. Ia kemudian didaftarkan ke sebuah perkampungan Islam a.k.a. TK Islamic Village di Karawaci, masih di Tangerang juga. Di sini keterampilan Jonih kecil untuk berpikir logis dan sistematis mulai ditempa. Hal ini ditandai dengan hipotesis sederhananya yang pertama, sebagaimana yang pernah diutarakan kepada ayahnya: “Kalau api bisa dipadamkan dengan air, nanti di neraka bawa air aja yang banyak.” Sang ayah pun langsung menelepon sang bunda setelah mengantar Jonih kecil pagi itu, khawatir akan keselamatan aqidah putranya.

Akhirnya, setelah ada sekolah lain yang lebih dekat ke rumah, ketika naik ke kelas 5 SD pun Jonih mungil pindah sekolah. Dimulai dari kelas 5 SD sampai lulus SLTP, Jonih bersekolah di Al-Azhar BSD. Dulu sekolah ini belum lama dibuka, sehingga Jonih pun diterima saja karena kebutuhan mereka akan murid baru kala itu masih sangat tinggi dan kecerdasan spiritual yang cukup dari calon murid belum menjadi prasyarat mutlak.

Bersambung…

-Jonih-

Advertisement

One Response to “Hikayat Hidup Seorang Jonih”

  1. [...] Hikayat Hidup Seorang Jonih (cont’d) Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan Jonih sebelumnya: Hikayat Hidup Seorang Jonih. [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.